Jelajah Super Murah Ke Jepang!


Gambar festival Shibasakura di wilayah Hakone. Pemandangan indah ini bisa didapatkan saat musim semi tiba antara April hingga Juni.
photo by @lisvifadlillah

#1Keributan Sebelum Perjalanan

Setiap perjalan adalah dahaga yang meminta dilegakkan. Dengan catatan, kelengkapan kisahnya akan terekam. Perjalanan pula membuat kelaparan. Akan langkah selanjutnya, akan kisah berikutnya. Inilah jejakku, jejak japit yang kutinggalkan.

Jepang? Pernah jadi negeri impian. Saat menunggu masa SMA, kuhabiskan separuh liburan pasca ujian di perantauan abang, di Semarang. Dari salah satu rak bukunya, kudapati buku kumpulan cerpen. Kalau tidak salah ingat, Umar Kayam penulisnya. Tapi entahlah, sekarang aku ragu.

Yang jelas, ada beberapa cerita berlatar Jepang. Salah satu adegan yang selalu kuingat, bagaimana sepasang kekasih menikmati pemandian air panas (onsen) sambil memandang gunung Fujiyama. Aku bermimpi melakukan hal yang sama. Bahkan untuk memiliki satu rumah yang menghadap gunung berpucuk putih itu. Keinginan yang masih kupegang sampai di semester pertama kuliahku. Selepas itu, lepas pula mimpi Jepang.

Setelah lama tidak terbesit menginjakkan kaki di negeri sakura, entah bagaimana awalnya hal itu terjadi. Temanku, Nur Ajijah, sejak bulan Maret 2018 sangat bersemangat tentang melancong ke Jepang. Setiap hari, yang hampir dilakukannya adalah membagi informasi promo tiket perjalanan, khususnya ke Jepang, di grup chat whatsapp jalan-jalan kami yang tergabung juga Gita dan Andre. Tidak lagi salah jika dia kemudian Andre meledeknya sebagai agen tiket. Perjalanan ini memang sudah setahun berlalu, tapi setiap detailnya masih jelas kuingat. Sangat lekat membekas.

Keinginan ke Jepang Jijah makin kuat. Sampai awal April, dia benar-benar giat mencari tiket promo. Barangkali puluhan tawaran menggiurkan dari agen perjalanan atau tiket tak jarang mengecoh. Sampai satu malam, kami bertemu di stasiun Kebayoran untuk memastikan keabsahan salah satu agen penjual tiket. Agen tersebut menawarkan harga Rp 1.7 juta untuk perjalanan pulang pergi Jakarta-Narita. Kami pasrah meyakini itu tak aman, jadi kami lepaskan.

The photo of Fujiyama mt. as the background of Kawagujiko station.
photo by @lisvifadlillah

Tak dinyana, dua hari kemudian di membeli tiket dari Traveloka. ’’Tiket Jakarta-Narita cuma dua juta. Buruan beli,’’ bunyi pesan yang masuk di grup obrolan, Goes to Maratua (nama chat group kami). Gita tanpa ragu membeli tiketnya. Aku? Setengah mati galau! Sampai akhirnya kuikuti prosedur pemesanan tiket. Sampai lima menit terakhir batas transfer biaya.

Bahkan, sebelum keberangkatan, kegalauan itu sebenarnya masih ada. Pasalnya, tidak ada rencana dan anggaran untuk liburan ke Jepang yang pasti takkan cukup hanya Rp 5 juta.

Sekitar jam 12 siang hari Rabu, 11 April 2018, kutransfer uang sebesar Rp 2.016.609 untuk tiket Jakarta-Narita-Jakarta berangkat tanggal 2 malem pulang 8 siang. Seperti kubilang, masih tebal keraguan bahkan sampai hari minus satu sebelum penerbangan. Drama-drama lain pun mengantre. Dari masalah visa yang tampak ribet dan ketakutan pengajuanku ditolak hingga perombakan formasi di kantor.

Di rumah kos misalnya, masih ada dua kubu dengan bisikan berbeda: satu bilang, ambil ini kesempatan. yang lain bilang, mending rugi dua juta daripada nanti berlipat-lipat kalau jalan. Untuk urusan visa, karena pasporku bukan yang ada hologram (bukan e-paspor) harganya lebih mahal, Rp 555.000, padahal e-Pas hanya Rp130ribuan.

Selama masa penantian visa itu (empat hari kerja), sempat kukatakan ke Jijah dan Gita, sebaiknya mereka saja yang berangkat. Aku tinggal. Tapi, dua hari sebelum keberangkatan, urusan perombakan posisi di kantor bikin dag-dig-dug. Pasalnya, teman satu desk Gita resign. Kalau Gita izin pergi, kemungkinan besar ditolak.

Setelah dapet izin kantor, kami bersiap pergi. Ada sisa satu hari untuk bersiap. Mulai menukar uang dan berkemas. Semua sudah siap (kalau hati tetap gak bisa 100 persen, I don’t know why). Rabu malam biasanya kantor rapat, dan Rabu itu aku dan Gita sama-sama absen. Penerbangan kami jam 10.30 malam. Di pesawat, aku masih sempatkan nulis beberapa artikel buat terbut Jumat. Ya, meski sudah libur, kadang kami masih dituntut untuk bekera.

Photo di resort ski terakhir yang buka
photo by @lisvipadlilah

Kursiku dan Gita sebelahan. Dia duduk di samping jendela, aku di dekat jalur pejalan, sementara di antara kami ada mas-mas. Ada yang lucu, sewaktu Gita meletakan tas di kabin, botol minum yang berada di tas sempat diperingatkan pramugari. “Ibu tolong kosongkan dulu botolnya,” kata si Pramugari. Dan Gita jawab sudah kosong. Setelah beberapa kali memastikan, si pramugari menyadari jika botol memang kosong. Lucunya, dia bilang ”Oh, ternyata hanya tetes-tetes semu,” sontak aku dan Gita saling pandang dan senyum-senyum sendiri. Ada-ada aja mbak.

Sampailah di Narita sekitar jam sepuluh pagi. ’’Kok kaya di Lombok ya?’’ kataku ke Gita setelah pesawat mendarat. Gita mengiyakan, karena memang bandaranya tampak kecil dan jauh dari bangunan padat. Meski tidak sekecil di Lombok juga sih. Tapi, setelah turun, baru terasa kalau bandaranya cukup besar dan OK. Dari sana, cerita hari pertama di Jepang di mulai! Here the story, keep on reading guys.

BTW, enak baca kalau tulisan kaku (seperti ini) atau lebih cair?

Iklan

Seri catatan Selayar: Yihaaa Sampai di Selayar Nih!

Menyapa laut: Nur Azizah memandang laut dari pantai pa'badilang
Photo oleh @lisvifadlillah

Pantai Pa’badilang dan sambel blimbing wuluh yang nendang

Keesokan pagi sekitar jam tujuh, kita ke pelabuhan Bira. Beli tiket nyebrang untuk empat orang, masing-masing Rp 25 ribu. Gue kira bakal pagi sekitar jam delapan berangkat. Ternyata, jam sepuluhan baru bertolak kapalnya. (Kalau diingat, turut prihatin dengan bencana tenggelamnya kapal tersebut Juli 2018 lalu. Semoga korban mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Kita bersyukur sewaktu menyeberang 23 Oktober, diberi keselamatan).

ikuti perjalanan Seri Cerita Selayar mulai di sini!

Sebelum kapal berlayar, gue kabari pak Tanri, orang yang bakal nganter selama di Selayar. Gue dapat kontaknya lewat instagram @selayar.id. Abangnya ramah dan informatif banget. Kasih bantu driver dan penginapan juga kalau mau nanya-nanya.

Setelah dua jam menyeberang, kita sampai di pelabuhan Pamatata. Tidak jauh dari pelabuhan, ada pantai bernama Pa’badilang yang tepatnya berlokasi di desa Bungaiya, Kecamatan Bontomate’ne. Cuma sepuluh menit dari pelabuhan. Turunlah kita. Tempatnya bersih. Pasir putih. Sepiiii banget, karena memang bukan hari libur dan sedang tengah hari. Banyak saung-saung yang terlihat sebagai tempat jualan kosong. Seperti telah lama ditinggalkan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jadi, di siang hari bolong, kita cuma mampu bertahan foto-foto sekitar lima menit saja. Terik banget tjoy. Selama di Pa’badilang, masnya (Astaghfirullah gue beneran lupa namanya, padahal baik banget itu mas drivernya. Iya, bukan pak Tanri ternyata yang nganter-nganter selama di Selayar).

Lokasinya sekitar 35 KM dari kota Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Kalau ditempuh berkendara sekitar satu jam. Topografi pantai berbentuk tanjung. Banyak pepohonan yang kalau difoto jadi keren karena meranggas di musim panas. Tapi serius, kalau siang bolong di sana jalan apalagi gak pakai alas kaki, pasirnya pun kaya udah dioven. Hawt.

Mampir di sini buat lihat indahnya tebing apallarang gaes!

Pantai ini secara sejarah menarik. Kenapa dinamakan pantai atau benteng Pa’badilang karena dulunya semasa kerajaan Tanete memang dijadikan sebagai benteng kerajaan. Arti Pa’badilang sendiri adalah tempat menembang. Selain Ujung Pa’badilang, nama lain yang disematkan untuk pantai ini adalah Bone Palukka yang menjurus pada sejarah mulanya sebagai tempat berlabuhnya para perompak dari luar.

Selain benteng Pa’badilang yang ikonik, tersusun atas batu-batu dan karang nan kokoh ada satu daya tarik lagi. Makan Opu Ujung. Sampai saat ini katanya masih dikeramatkan warga. Sayangnya sewaktu ke Pa’badilang, kita sendiri gak sempat mampir atau berziarah.

@lisvifadlillah di pantai pa'badilang
jalanan setapak bersemen tampak rapih membelah saung-saung kosong dan reot di pantai pa’badilang. photo oleh @lisvifadlillah

Tapi, sejak dijadikan tempat wisata, terlihat belum sepenuhnya digarap tuh. Mulai dari fasilitas umum tidak ada. Jadi, ke Pa’badilang hanya bisa dinikmati sebentar saja. Mungkin seperti yang kita lakuin, sekadar mampir selagi jalan menuju Benteng. Kalau mau sekalian sambil makan ya jangan lupa bawa bekal. Karena nggak ada warung.

Kerennya pantai Marumasa, banyak spot foto instagramable cuy!

Selesai dari Pa’badilang, kita lanjut ke arah kota Benteng. Sebelum ke Benteng, gue minta masnya untuk antar ke rumah panggung paling tua di Selayar. Katanya lokasinya nggak jauh dari Pa’badilang dan memang dilewati kalau menuju kota. Tepat saja, sekitar lima belas menit kemudian, masnya berhenti. Lalu nunjuk ke arah kanan. ’’Itu kak rumahnya,’’ ucapnya. Setelah nengok ke kanan, gue tidak menemukan tanda-tanda menariknya rumah selain memang mungkin termasuk klasik.

rumah tua Selayar oleh @lisvifadlillah
Tampak seperti rumah panggung pada umumnya di kepulauan Selayar, konon rumah ini termasuk yang tertua (di kecamatannya). foto oleh @lisvifadlillah

Apalagi, karena rupanya sudah tak dihuni dan nampak taka man jika disinggahi. Akhirnya, gue minta cari makan deh karena udah jam satu siang juga. Eh, belum ada cerita sajian sari laut dengan sambel blimbing wuluh yang nendang ya? OK, I’ll keep it for next post. Make sure you stay with me to new post. See you, love you all gaes.

Seri Catatan Selayar: Instagramable Spot of Marumasa Beach

marumasa kredit foto mey_ke15
Berlatar hamparan laut Flores, pantai Marumasa fasilitasi spot foto menarik. foto dari @mey_ke15

 

Ok, ini catatan ke tiga perjalanan ke kepulauan Selayar. Setelah dari tebing Apallarang, kita milih nyari penginapan di Bira. Segala web dan aplikasi pemasang pemesanan penginapan kita selancari. Mulai Airbnb, travelloka, Tiket.com, sampai ketemu di TripAdvisor, salah satu apps kesukaan kala megang hape yang ilang (hikss). Murah banget tjoy, cuma Rp 150 ribu dapat satu kamar berAC, TV, dapet camilan dan the pagi hari,  dengan kamar mandi dalam dan bed gede. Muat buat kita bertiga. Andre mah enak banget, sekamar sendiri aja.

Continue reading “Seri Catatan Selayar: Instagramable Spot of Marumasa Beach”

Seri Seni Kata Logophile: #1 Metanoia

#1 Metanoia [English | origin: Greek]

(n.) The journey of changing one’s mind, heart, self, or way to life. Hijrah.

2018 has started. A wonderful journey of human being headed to a new chapters. Hope, surrender, pray, ambition, and sincerity have been prepared. What will happen and what expeted to be happen. Today, all the things mixed into one word that I solemnly wanted to be happen, metanoia.

Continue reading “Seri Seni Kata Logophile: #1 Metanoia”

# 2 Tebing Appalarang di Desa Ara

tebing Appalarang, desa Ara, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Citra tebing Appalarang, desa Ara, Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan. foto oleh: @lisvifadlillah

Selesai sarapan ikan bakar dan sambal khasnya nan aduhai di depan sebuah pantai, kami melanjutkan perjalanan. Masih sambil sesekali menahan kantuk. Aku sendiri masih belum terlalu yakin dengan tujuanku. Setiap perjalanan, terasa abstrak jika soal tujuan. Karena terbiasa menerima semua rencana destinasi. Tetapi, soal Selayar ini, sebenarnya aku yang merancang, tetapi sebelum sampai di sana, temanku si Jijah yang membantunya. Continue reading “Seri Catatan dari Selayar: Tebing Appalarang yang Menantang”

Sunyi

Keberadaan manusia mampu disadari hanya dalam kesunyian

Seperti angin yang meronta pada daun pintu, menderit.

Continue reading “Sunyi”

Review : Aku, Meps, dan Beps

aku, meps, dan beps (2)
Sampul buku Aku, Meps, dan Beps

Judul buku : Aku, Meps, dan Beps
Penulis       : Soca Sobhita dan Reda Gaudiamo
Digambari  : Cecillia Hidayat
Cetakan     : Ketiga, April 2017
Penerbit     : Post Press
Halaman    : xvi + 89 halaman, 13 x 19 cm
ISBN          : 978-6-02-603040-5

Membungkus Masa Kecil

Anak-anak terlahir sebagai pencerita ulung. Imajinasinya tak terbatas. Persepsinya luas. Pemahamannya tak sekadar puas. Bahasanya Lugas. Humornya buas. Yang dialaminya membekas, menjadi kenangan yang indah atau sebaliknya, tertanam di kedalaman relung.

Continue reading “Review : Aku, Meps, dan Beps”