Lin. Boks Rama Widi (2)Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Peribahasa itu banyak diamini, sebagai pujian atau untuk disalahkan. Misalnya saja, seseorang yang dilahirkan dari ibu yang  pandai menyanyi, si anak akan mendapat penghargaan manakala dianggap merwarisinya. Akan tetapi, saat seorang anak melakukan kesalahan hingga kejahatan, tidak jarang pula sifat orang tua disalahkan. Itulah dunia tempat kita saling bersapa.

Nah, cerita ini adalah tentang seorang bernama Rama Andika Widi. Karakter kuat untuk peribahasa di atas. Memimpin dalam jalan dan cara berbeda.

Rama Andika Widi dikenal sebagai pemain harpa ke empat di Indonesia. Bukan soal keempatnya, namun dialah laki-laki pertama di Indonesia yang mau memopulerkan harpa di antara musisi perempuan yang sudah ada. Bukan sekadar dikenal, laki-laki yang disapa Rama itu pun mendunia dengan alat musik yang tidak sengaja menemani waktu kosong kegagalannya di negeri orang.

 

Kenapa Keempat?

Jika mau diurut, pemain harpa yang luas dikenal lebih dulu di Indonesia adalah Uzy Pieters, Maya Hasan, dan Heidy Awuy. Dengan tanpa ragu, Rama pun berambisi menjadi yang keempat dan pertama untuk kalangan kaumnya, laki-laki. Meski tidak ragu memilih alat musik tersebut, orang tua, terutama sang mama lah yang sempat meragu dengan pilihan instrumen baru Rama.

Legecy
Rama Widi (kanan) bersama harpist pertama Indonesia, Ussy Pieters, di belakang panggung di konser pertama Rama. Citra dipost pada November 19, 2016. gambar milik Rama Widi dari instagram @ramawidi

Bertemunya Rama dengan alat musik harpa cukup dramatis. Laki-laki kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1985 itu pergi ke Vienna, Austria untuk mengikuti ujian masuk belajar conducting orchestra di Musik und Darstellende Kunst Music University. Diluar dugaan, ujian masuk berlangsung lebih sulit dari yang dibayangkan.

Ada tiga tahapan yang harus dilewati Rama untuk bisa masuk belajar conducting. Tes hari pertama, dia harus mengikuti rangkaian tes dimulai dari ujian pendengaran, teori, pengetahuan, kecepatan suara, dan membetulkan partitur yang salah, yang baginya merupakan bagian sulit.

Hari kedua adalah tes blatsingen atau ujian menyanyi. Rama mendapat bagian paling susah. Laki-laki keturunan Toraja itu juga diminta menyanyikan lagu klasik, ternyata dia belum sempat menyiapkan lantaran ujian tersebut baru pertama kali dilakukan. Singkatnya, di hari kedua itulah dia gugur.

 

Titik Balik

Di tempat dia belajar musik pertama, Perguruan Cikini, dia bisa dianggap yang terbaik. Namun, di Vienna, Rama merasa tidak ada apa-apanya. Akan tetapi, tidak mau larut bersedih lantaran tidak lulus ujian, anak pertama dari dua bersaudara itu mencari alternatif kegiatan. ʼʼDaripada satu tahun menunggu ujian selanjutnya tidak bermusik, akhirnya ikut belajar di Konservatorium, ʼʼ ujarnya ditemui Selasa (18/7) lalu di Plaza Semanggi, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Di Konservatorium dia bingung memilih instrumen, dia dilema antara oboe atau harpa. Bukan pilihan yang mudah mengingat harga harpa tidak bisa dibilang murah. Namun, sebuah ide muncul, yakni menjadi laki-laki pertama di Indonesia yang bermain harpa. Sejak 2004 itulah dia resmi belajar harpa di Vienna Konservatorium di bawah bimbingan maestro harpa dunia, Julia Reth.

 

Diskusi Awal

Menurut Rama, mamanya sempat tidak setuju dia beralih instrumen ke harpa, kebetulan harpa mahal, dan dirinya bosanan. Rata-rata dalam dua tahun dia sudah bosan dengan instrumen yang dimainkan.

Pendapat mamanya tersebut memang tidak salah, Rama mengaku mudah bosan memainkan satu instrumen. Akan tetapi, dia mendapatkan keyakinan bahwa harpa adalah instrumen terakhirnya, paling tidak sampai saat ini Rama masih bermain harpa.

Rama bercerita, kebetulan mamanya saat itu sedang mengunjunginya di Vienna, dan saat pulang menitipkan uang saku untuk satu tahun. Diwanti-wanti untuk berhemat, Rama justru pergi ke toko musik dan membayar down payment (DP) untuk harpa pertamanya. ʼʼSaya kirim pesan lewat SMS ke mama, minta maaf karena pakai uang saku untuk beli harpa. Saya bilang, ‘Aku janji ini bakal jadi instrumen terakhir dan tidak akan ganti-ganti lagi seperti yang dulu-dulu. Dan aku janji, suatu hari mama akan bangga dengan ini, ʼʼ kenangnya.

ramawidi-1500994798352
I love Rama caption: “When you photograph people in color, you photograph their clothes. But when you photograph people in black and white, you photograph their souls!” Ted Grant. Whoever took this pic during me playing Grandjany’s Rhapsody, Thank You!!! foto diunggah dalam akun @ramawidi

Kesempatan Terbuka

Satu tahun pertama belajar harpa, Rama mengaku berkembang berkat jiwa kompetisinya. ʼʼBerbagai kompetisi saya ikuti, kompetisi musik di Vienna sangat ketat. Kita ngejar jam terbang konser,ʼʼ imbuhnya. Jadi, bisa dikatakan Rama tumbuh bersama harpanya lewat kompetisi, dan dia pun urung untuk kembali mengikuti ujian conducting.

Rama cukup senang lantaran masa-masanya di Vienna didukung support system yang baik, mulai dari teman-teman dan guru. Meski baru belajar harpa, satu tahun pertamanya sudah mulai solo recital dan tawaran job dari corporate di Indonesia. ʼʼDari saat itu juga orang tua lihat bahwa nanti ada kesempatan untuk aku,ʼʼ tuturnya.

 

Tiga tahun pertama belajar harpa pun merupakan tahun mengagumkan, Rama bisa belajar di kelas master harpa yang dibimbing oleh Jana Bouskova asal Republik Ceko pada 2005, pada 2006 dia mengikuti kelas Elizabieta M. Symth dari Polandia dan prof Susan McDonald di Polandia. Pada tahun selanjutnya, dia belajar di Perancis dari Marie-Claire Jamet.

Laki-laki berdarah Toraja itu lulus dengan nilai luar biasa pada tahun 2010 yang dimana setara dengan S2. Bersamaan dengan itu, Rama juga mengambil kuliah Musik Pädagogik (Music Education) dengan minor Conducting Orchestra di bawah bimbingan Lazlo Gereb yang telah diselesaikan ditahun 2012. ’’Waktu lulus kuliah, papa tidak menyangka kalau saya di Austria itu kuliah, dikira saya hanya les musik. Dan dia bilang bangga,’’ ucap putra mantan Wakabareskrim Polri, Mathius Salempang.

Leading in Different Way

Ditanya soal ayahnya yang dikatakan salah satu terbaik di kepolisian (Mathius Salempang salah satu polisi yang menangkap Tommy Soeharto), Rama tidak jadi soal memilih jalur berbeda dengan sang ayah. ’’Alasan utama tidak mau mengikuti jejak papa karena sosoknya terlalu pintar di kepolisian. Semua pendidikan di kepolisian juara satu, sampai dapat bintang yang sama dengan SBY,’’ tutur Rama bangga. Dengan jujur, Rama mengakui bahwa dirinya merasa akan kesulitan menyaingin prestasi ayahnya.

ramawidi-1500996460465
(ki-ka): Mathius Salempang (ayah Rama), Fifi Novita Salempang, dan Rama Widi di rumah tongkongan pertama Toraja. citra dipost Rama Widi 8 Oktober 2016 lewat akun @ramawidi

’’Nanti pasti bakal dibandingin. Jadi saya katakana, saya juga akan jadi nomor satu tetapi di bidang saya,’’ ujar Rama pada papapnya. Selain alasan itu, dengan prestasi ayahnya yang mengungkap beberapa kasus besar, dia dan adiknya tidak jarang mendapat terror yang tidak menyenangkan. Dan hal itu tidak ingin terjadi pada anak-anak Rama kelak.

Babak Baru dan Prestasi Terdahulu

Baru-baru ini, Rama telah kembali dari konferensi harpis tingkat dunia (World Harp Congress) di Hongkong 11 Juli lalu. Acara ke 13 kali itu berisi masterclass, concert highlights, International Award Winners‘ Recitals, dan Youth Programmes. Kongres tiga tahunan tersebut diikuti beberapa negara seperti China, Japan, Malaysia, Korea, Singapura, Thailand, dan Taiwan. Dari Indonesia sendiri, Rama lah yang mewakili. ’’Untuk bisa ikut kegiatan itu ada seleksi, kami kirim proposal apakah mau perform atau ikut masterclass,’’ imbuhnya. Bagi Rama, kegiatan itu berarti sebagai kontribusi Indonesia dalam ajang dunia, terutama harpa.

ramawidi-1500994600751
Rama Widi berfoto bersama Marco Salvi, anak dari Victor Salvi, Big Bos/ Pendiri Salvi and Lyon & Healy di tengah International Harp Congress di Hongkong awal Juli 2017. Citra diposting Rama Widi pada 11 Juli dengan akun @ramawidi

Selain ikut dalam kongres, kiprah Rama sudah sejak awal karirinya dalam bermain musik harpa mendunia. Dia tercatat sebagai orang Indonesia bahkan Asia Tenggara pertama yang lolos seleksi kompetisi harpa tersulit di dunia selama 50 tahun kompetisi diadakan di Israel. Dia juga orang Indonesia pertama yang diundang melakukan konser solo di Vienna Jazz Festival 2007, hingga diundang tampil dalam solo concerto di hall terbesar di Vienna, Austria, yakni Wiener Konzerthaus pada 2016 lalu.

Menghabiskan masa-masa awal dengan berbagai kompetisi, Rama juga memberikan kuliah di berbagai universitas. Sebut saja di IKJ pada 2012-2013 dia sempat mengajar kelas biola. Pada tahun berikutnya, 2013-2014 dia mengajar dua kelas di Mahidol University Thailand, yakni kenasl Harpa dan Chamber Musik. Rama juga sempat ditunjuk sebagai Principal Harpist di Thailand Philaharmonic Orchestra dan Symphonia Vienna Orchestra.

ramawidi-1500994853857
Penampilan Rama Widi dalam konser Ginastera Concerto tahun 2016 at Großer Saal Wiener Konzerthaus. Foto diunggah Rama Widi di akun @ramawidi pada Februari 20.

Rama juga telah mengikuti berbagai tur di Eropa hingga Asia. ’’Amerika saja belum kesampaian,’’ tuturnya. Tour Eropa salah satunya dia lakoni bersama Zoltan Kodaly World Youth Orchestra pada 2007, lalu Asia tour dengan Symphonia Vienna Orchestra dari 2008-2009. Bersama kelompok musik yang terakhir disebut itu pula, sejak 2010 hingga 2016, Rama melakukan tour rutin di China.

Kini, Rama banyak mendedikasikan diri untuk mengajar. ’’Saya ingin lebih banyak harpist di Indonesia lahir, dan tentunya berkualitas. Bahkan saya punya imajinasi kelak muridnya, Jessica Sudarta dan Felicia Tandiono bertemu di final kompetisi harpa Israel,’’ ujar Rama laki-laki 31 tahun itu.

Saat ini, Rama tengah menyiapkan album solo pertamanya. ’’Almbum ini dikerjakan lumayan lama, dua tahun. Karena ada beberapa kali ganti konsep,’’ imbuhnya. Dia berharap, masyrakat lebih familiar dan menikmati harpa dan almbunya kelak memberi warna dalam dunia harpa Indonesia.

Tulisan di atas sudah terbit di Metropolitan Jawa Pos pada Minggu, 23 Juli 2017. Jadi tulisan di atas disesuaikan dengan gaya bahasa koran, meski ada beberapa yang sempat diedit namun tidak menyeluruh.

Foto-foto saya ambil dari akun instagram pribadi Rama Widi (@ramawidi). Berjumpa secara personal dengannya memberi kesan bahwa Rama adalah sosok yang ramah, on point, sangat hormat dengan orang tuanya, ambisius dengan apa yang ingin dicapai, dan tetap humble. Rama,  Good luck for your album, and thanks for sharing. Semoga kisahmu menjadi inspirasi pemuda (pemudi) Indonesia lainnya. Keep on shining and inspiring!

Iklan

Dari Dingin-dingin Empuk Sampai Ke Tengah

Day 3 Lombok Trip

Sawah Sembalun dari atas bukit Selong. Phot by: @lisvifadlillah

Bonjour j’taime! Hari ke tiga di Lombok nih, yeay. I m so excited to get higher place to enjoy Sembalun scenery. Ya, hari ke tiga di Lombok kita eksplor Sembalun, kaki Rinjani nan aduhai dingin-dingin empuk. Maksudnya? Maksudnya tidur di Puri Rinjani dengan kasur empuk dalam udara dingin itu bikin kualitas tidur yang lama tak kumiliki mampir juga, eh. Apalagi dengan tarif kamar yang hanya Rp 200 ribu permalam.

Karena tidur yang sangat kami nikmati , Geeta dan Nola bahkan jadi susah dibangunin. Apalagi Geet, harus kita tarik selimut dan singkap horden di atas kepalanya. Mandi pagi-pagi di sana rasanya luar biasa, brrr. Jadi kangen kampung halaman dan Batu tercinta. Karena harus memanaskan badan, sebelum mandi kusempatkan untuk melakukan instruksi aplikasi Kebugaran 30 Hari yang berujung dengan pandangan aneh, haha.

Pukul tujuh WITA aku buka pintu puri. Whoaaaa pemandangan pagi nan menakjubkan. Tau kan kalau pagi-pagi di gunung, pasti banyak kabut di antara lembahnya. Nah, seperti itu, meski matahari sudah sangat terang, tapi masih banyak kabut yang belum sempat mengangkasa. Serupa dengan kami yang enggan berdiri karena dingin. 

Beauty and the mist. Photo by : @lisvifadlillah

And you know what, aku sangat beruntung karena melihat dengan jelas embun yang masih menempel pada bunga dan daun, bahlan pada keduanya yang sudaj mengering. Jadilah aku banyak dapat koleksi foto macro embun yang unyu. Dengan kamera hape seadanya saja, bulir-bulir embun sangat bagus dan real. Paduan ainar matahari yang cukup terang sangat membantu pencahayaan dan aku tanpa bersusah payah memenuhi galeri foto hape dengan gambar-gambar embun di atas daun dan bunga.

Edisi dibuang sayang, diunjukin mari..

Ah, mereka keluar. Oh ya, selama di Puri Rinjani, pengelolanya yakni mas Imran menawarkan paket nganter ke bukit. Kami tidak repot-repot untuk naik ke bukit pergasingan, hanya bukit selong pun sudah senang ruar biasa. Pasalnya, bukit pergasingan memerlukan minimal dua jam jalan kaki, swdangkan bukit selong tidak sampai 15 menit. Di antar empat orang termasuk mas Imran, saya lupa nama tiga orang temannya yang mengantar kami, maafkeun. /|\

Menggunakan motor, kami diantar ke bukit selong. Kurang lebih tujuh sampai sepuluh menit. Jika diamati, kalau kita jalan di perkampungan Sembalun, maka banyak tanda jalan yang memperlihatkan jalir evakuasi. Ya, di Sembalun rupayanya sering banjir. Terutama jika hari-hari banyak hujan, seperti beberapa waktu di bulan Januari yang jejaknya kami lihat di jalan depan puri yang rusak parah seperti kali asat atau kering. Kata teman yang mengantarku pula, dari bukit-bukit di sekitar Sembalun, kalau sedang hujan besar bisa berubah menjadi air terjun-air terjun. Aku ga percaya seratus persen, karena itu pegunungan man! Tapi ini mereka yang bilang, jadj aku percaya-percaya aja. 

Taman Bambu di kaki bukit Selong. Photo by: @lisvifadlillah

Sebelum naik ke Selong, pengunjung akan turun di sebuah taman bambu. Ya, oleh masyarakat secara swadaya, kebun bambu diubah menjadi taman bambu agar lebih unyu menarik wisatawan. Tepat di sebalah kiri tanjakan sebelum naik Selong, ada kampung adat yang dianggap sebagai kampung pertama desa Sembalun. 

Foto rumah pertama desa Sembalun diambil dsri bukit selong. Photo by: @lisvifadlillah

Tidak banyak rumah memang, sekitar 10 rumah kalau tidak salah hitung dan sudah termasuk dua lumbung padi di tiap ujung kampung. Menurut teman yang mengantarku juga, katanya rumah-rumah tersebut dijadikan aset sebagai cagar budaya. Adapun penduduknya sesuai perkembangan jaman banyak yang mulai keluar saat berumah tangga atau merantau. Akibatnya rumah-rumah tersebut hanya dijadikan warisan. Tapi sepengamatan Jijah, ada satu rumah yang masih dihuni satu keluarga. Sayangnya, aku tak sempat menengok rumah tersebut karena buru-buru pindah lokasi.

Untuk naik ke bukit Selong sendiri tidak sampai memakan waktu sampai 10 menit, ya hitung masing-masing lima menit untuk dua bukit. Aku kurang tau, yang mana bukit Selong, yang lebih tinggi atau lebih rendah. Dari bukit yang lebih rendah, pemandangan sawah-swah khas Sembalun tampak indah, hm,,,apalavi kalau sedang fase hijau atau kuning ya, fase antara nyangkul dan tandur pum sudah indah begitu. Kami naik sekitar lima menit lagi. Lima menit yang bikin ngos-ngosan. 

Foto rumah pertama desa Sembalun diambil dsri bukit selong. Photo by: @lisvifadlillah

Gununh rinjani tepat dibelakang kami dan kubayangkan seperti fuji dengan puncak putihnya. 

Pemandangannya bertambah antara sawah-sawah yang nampak kotak-kotak, atap-atap rumah warga Sembalun, dan landskap gunung Rinjani yang kalau boleh aku beralay akan kusebut serupa gunung fuji lantaran puncaknya agak besemu-semu tak hijau, antara warna tanah kering dan menimbulkan efek seperti tertutup salju jika di fuji. 

Turun dari bukit itulah sebenarnya kami baru main ke perumahan cagar budaya desa pertama Sembalun. Mulai dari desa ini aku mendengar antusias Geeta tentang konsep rumah suku Sasak yang menggunakan kotoran sapi untuk melepa tembok dan mengepel lantainya. Cerita ini pun nanti akan berlanjut ke desa Sade, jadi mohon sabar dan ditunggu di cerita keesokan harinya yah.

Karena perjalanan cukup singkat, tidak sampai satu setengah jam, akhirnya kita minta diantarkan ke Pusuk Sembalun. Di sana ada sajian view desa Sembalun lebih tinggi lagi. Sebenarnya Pusuk Sembalun akan dilewati setiap kali orang akan masuk desa, akan tetapi karena kami datang tengah malam, tempat tersebut tidak kami kenali. Bahkan, banyaknya monyet pun tidak ada yang kelihatan saat malam hari. Iya, monyet, di Sembalun ternyata habitat salah setu jenis monyet dengan bulu lebat. Mungkin memang karena udara dingin, jadi kelebatan bulunya menjadi keunggulannya.

Say Hi pada tuan penghuni hutan Pusuk Sembalun, sepanjang hutan Sembalun mereka mudah ditemui. Photo by: @lisvifadlillah

Pas kami dalam perjalanan naik ke atas, karena menunjukan tampang ndeo ala-ala anak kota yang takjub lihat monyet sedekat itu di jalan raya, mas-mas pengantar kita pun memberhentikan laju motornya. Kami foto-foto dulu. Eh tiba-tiba seekor monyet menyambar kantong plastik hitam di motor yang ditumpangi Gita bersama mas Imran. Sebelum ke Pusuk kami memang membeli sarapan pecel dan gorengan, karena kami tidak melemparkan makanan, akhirnya monyet-monyet tersebut merebut apa saja yang ada di kantong plastik. Alhasil, satu pecel kami relakan untuk dibawa seekor nyemot itu. Karena banyak monyet lainnya yang ingin juga, akhirnya terjadi drama kejar-kejaran antara kami dan monyet yang mengincar makanan kami. Sorry ya nyet, kapan-kapan kalau ada kesempatan ke Sembalun aku janji bawa makanan.

Tip ke dua: silakan bawa makanan untuk dibagikan ke monyet di pusuk sembalun jika tidak mau mereka merampas kantong kresekmu. Ini juga berlaku jika kamu pengen dapetin foto-foto bagus mereka berjajar unyu. 

Sembalun dari atas pusuk. Photo by: @lisvifadlillah
Paduan langit, awan dan bukit nan syahdu. Photo by : @lisvifadlillah

Di Pusuk, pemandangannya juga parah. Ada spot yang disediakan untuk foto-foto. Ada juga sebuah anjungan, semacam  pelataran, untuk melihat Sembalun. Ada sepasang monyet dengan bayinya mengharapkan makanan. Salah seorang teman datang membawa kacang, dan monyet itu dstang mendekat. Namun, sebuah kejadian yang tidak kami harapkan dipertontonkan. 

Seorang laki-laki dengan baju berrompi parkir yang sebelumnya tampak memberi makan kacang justru mengambil anak monyet tersebut. Hal itu lantas membuat geger monyet-monyet dan pengunjung Pusuk. Bapak tersebut dengan santainya berjalan ke arah parkiran, sementara kami merengek minta dilepaskan.

Bukan hanya kami, tapi pengunjung lain pun melempar kalimat yang sama, meminta pelepasan anak monyet. Tapi  bapak tersebut tampak cuek dan senyum-senyum dengan perhatian dari kami. Anak monyet itu disimpan dalam sebuah kardus kecil bekas kopi sachet. Dengan diikat tali rapia, mereka (bapak parkir dan temannya) sama sekali tidak terganggu dengan cecaran kami. Bahkan aku sendiri sempat melayangkan kalimat-kalimat sindiran, “bapak mau dipenjara, dikurung kaya monyetnya gitu?” Dan dia hanya menanggapiku dengan senyum-senyum saja, padahal tau aku sedang memideo wajahnya. 

Menurut pengakuannya, monyet-monyet itu tidak akan habis meski diambil anakannya. Jadi tidak usah khawatir. Toh monyetnya akan dipelihara juga oleh orang yang minta, bukan buat disiksa. Ujarmu pak buat dipelihara, tapi sebenarnya itu bentuk penjara buat satwa. Hal tu jelas berbeda dengan penuturan teman-teman Puri Rinjani, monyet anakan itu biasanya dijual dengan harga tinggi. Jadi bukan diberikan cuma-cuma.

Untungnya, saat mengikuti bapak tersebut ke pelataran, kami melihat monyet kecil tersebut lepas dari kardus. Dengan membawa tongkat besar, si bapak menakuti monyet-monyet besar. Monyet kecil yang sudah dipegangnya lagi pun akhirnya dilepas dan kembali ke orang tuanya dengan haru biru disambut monyet-monyet besar lain yang berteriak-teriak kencang menantang duel. 

Lepas dari tragedi itu, kami memakan pecel yang sudah dibawa. Pukul sebelasan kami pun turun kembali ke Puri. Oh ya, ada satu hal lucu yang membuatku sempat dicengin anak-anak. Hal  itu karena kubilang, pacarnya teman yang boncengin aku nyamperin dia, cemburu kekasihnya boncenin perempuan lain, haha. Jadilah aku dicengin perusak hubungan, maaf ya mas ya.  Masnya sempat tidak enak malah minta maaf ke aku, padahal aku mah apa atuh. 

Bukannya beres-beres, kami sempatkan tidur siang. Lumayan saru jam. Jam satu baru kami siap-siap pergi menuju Lombok Tengah, tepatnya ke desa Sade. Setelah berbenah, jam dua kita keluar puri dan perutku belum juga beres. Ada pohon jambu, kumakan dua tiga buah jambu kecil berhqrap menyembuhkan diareku. Kami yang memutuskan ke Sade dengan menumpang mobil pick up harus menunggu ada satu yang lewat dan mau kami tumpangi. Baru pukul 15 WITA ada yang berhasil kami tumpangi. Oh man, serasa jadi traveler beneran. 

Dengan membayar per orang Rp 20 ribu rupiah, kami turun di Aikmal (baca aimel). Sepanjang perjalnan, ujung-ujungnya kami serasa tak saling kenal, saling diam, lantaran berusaha menyelamatkan diri dari tertular ibu-ibu yang mabok digoyang lika-liku Sembalun. Belum lagi mulai terjadi salah koatum, parka yang tadinya terasa wajar di Sembalun yang dingin, terasa mulai menjengkelkan panasnya. 

Dari Aikmal kami mendapat tumpangan elf dengan membayar Rp 20 ribu perorang. Kami akan diantar sampai ke Mataram dulu baru diantar ke Sade. Padahal, kami cukup turun di Praya untuk lanjut ke Sade. Tarif normalnya pun sebenarnya tidak sampai Rp 20 ribu perorang, hanya Rp 5-10 ribu cukup.

Tip ke tiga: serupa dengan tip pertama, jika berkaitan harga, nego shay… Kalaupun mau tanya, tanya ke warga biasa atau ke petugas yang lebih terpecaya. Karena bertanya dengan penguasa jalanan, ya siap-siap diputar-putar. 

Turun di Praya, kami sempatkan makan terlebih dahulu. Karena takut dijahili supir-supir angkutan atau travel, kami memilih bertanya pada pak polisi. Setelah diberikan wejangan pak Kapolsek Kopang, kami diantar pak haji ke Sade dengan tarif Rp 150 ribu dan tambah Rp 50 ribu sampai di Kuta. Tadinya kami pikir bisa menginap di Sade, tapi karena faktor kenyamanan kami memilih langsung caei penginapan di Kuta.  

Di Sade, Anda akan langsung disambut pemuda setempat untuk diantar mengelilingi kampung. Dia akan menjelaskan detail tentang kampungnya. Misal, bahwa dia adalah keturunan ke 16 suku Sasak, ada sekitar 170 kepala keluarga di sana, perempuan bisa menenun jadi syarat mereka boleh menikah, mas kawin 25 biji benang, usia 20 tahun belum menikah dianggap perawan tua, hingga tradisi mamarik dan mengepel lantai dengan kotoran sapi. 

Nah, keteratikan Geeta dengan kotoran sapi terjawab, selain dianggap bagus untuk lantai, sapi yang dianggap suci juga jadi faktor kenapa masyarakat auku Sasak mengepel dengan kotoran sapi. Dari sapi yang suci itulah mereka berharap berkah. Dan alasan itu pula yang akhirnya membuat kami batal menginap di Sade, terutama diperkuat aroma ibu-ibu yang sedang pel sore, hehe.


Pada bagian puncak kampung yang berbukit, kami berhenti di depan ibu-ibu penenun. Jijah sempat coba, tapi aku cuma duduk saja dan sibuk bertanya harga. Jadilah saya bawa satu helai kain. Kalau di desa Sade, harga kain lebih mahal, karena mereka bagi keuntungan dengan tiga orang: dia sendiri, pajak, dan pemandu yang mengantarkan tamu. Tapi versi penenun sendiri pembagian tiga itu dengan saudara-saudara lain, karena banyak kain titipan dari saudara yang tidak tinggal sekampung Sade. Sebelum mengakhiri tur, adzan maghrib berkumandang. Masji di Sade tampak begitu indah dan menenangkan. Sayang tak sempat mampir sembayang apalagi foto satu pun, tapi akan selalu terkenang.

Karena pak haji menuggu, kami diantarkan cari penginapan di Kuta. Dapatlah kami kamar di Tri Putri dengan sewa Rp 150 permalam untuk berempat dari harga normal Rp 120 ribu permalam untuk dua orang. Haha, itu semua hasil nego shayyyy. Setelah masuk kamar, kami pun siap-siap istirahat. Lanjut cerita besok halan-halan ke pantai di kawasan Kuta Mandalika ya… Unch unch

Mari Merona Bersama

Day 2 in Lombok

Heading to paradise. Photo by: @lisvifadlillah

Setelah beberapa bulan tidak pernah tidur sebelum pukul 12 malem, dan tidur sebelum jam itu membuatku terbangun lebih pagi. Sekitar pukul 4 WITA hari ke dua di pulau Lombok (1/3) aku bangun. Karena sedikit gerah akhirnya milih pindah baringan di saung depan tenda. Ya, ada beberapa saung di Kenawa yang bisa dipakai kalau lagi ngaso. Jijah seems awake too, but she remain stay in the tent. Sambil nikmati semilir angin dan dan keheningan serta cahaya dari beberapa mercusuar, kukeluarkan hape dan menulis sebuah surat untuk Phaedra. Aku janji kirim anak kecil itu surat tanggal 7 pas ulang tahunnya ke 6. Tapi belum kukirim sampai tulisan ini diposting, eheh.

Tak tega untuk memejakan mata seperti biasanya di jkd (baca Jakarta), selagi menulis surat aku hanya membiarkan angin menyejukan manjakan pagiku. Sekitar pukul 6 pagi, Jijah bangunkan anak-anak. Karena niat mengejar sunrise, jadilah kita siap-siap naik bukit yang jadi landmark Kenawa. Nama bukitnya sendiri kita ga tau dan ga kepikiran nanya. Naiklah ke atas bukit, hop hop hop.

Bukit ini difoto setelah matahari tinggi, sekitar pukul 8 WITA. Photo by: @lisvifadlillah

Asliiiiii seru abis. Namanya anak kampung yang baru bentar tinggal di jkd dan selalu melewatkan paginya dengan sebantal guling (harusnya segelas jus atau susu gitu kan ya…), dapat lewati momen pagi untuk jalan ke atas bukit dengan pemandangan dan udara super duper seger itu asli nikmat banget. Lucunya, di sana ada anak kucing yang nemenin naik ke atas bukit. Kucing kampung berwarna pada umumnya itu kadang-kadang berhenti, baring minta dielus-elus, tapi karena dicuekin akhirnya jalan lagi. 

Si meow, bodyguard dan guide kita ke bukit dan balik turun. Photo by: @lisvifadlillah

Sampai di atas, Jijah dan Geeta pakai toganya buat foto. Toga? Ya! Mereka dulu punya mimpi foto wisuda di atas Rinjani. Tapi karena belum kesampaian, jadilah foto wisuda di atas Rinjanji ditunda dan diganti dulu dengan bukit Kenawa. Di sanalah posisiku menentukan sebagai juru foto. Kalau Geeta dan Jijah sibuk dengan toga, beda lagi dengan Nola. Dia terbilang ngirit ngomong, tapi aku yakin galeri dan instastory-nya udah penuh wkwkw.

Biar percaya kalau mereka beneran bawa toga! Hehe photo by: @lisvifadlillah

Setelah motoin Jijah dan Geeta, sampai bikin boomerang ala-ala @allthatishe yang orangnya geming tapi rumputnya goyang, aku duduk untuk bikin timelapse sunrise. Sudah jaln 10 menit dan matahari mau nongol, tiba-tiba Jijah lewat depanku. Hm…bunar jalanlah mau rekam timelapse. Lanjut foto-foto. Sempat iseng juga bikin grass crown gitu. Asli, dari atas Kenawa itu surgawi banget pemandangannya. 360 derajat pemandangan laut, gunung, bukit, laut, pelabuhan, bukit, gunung, laut. Bahkan gunung Rinjani pun npak kakinya yang tampak dingin. 

Yongkrai, Sunrise dengan kamera hape seadanya mamen. Photo by :@lisvifadlillah

Karena matahari sudah mulai menyengat, buat foto aja sudah gak keliatan layar hapenya, turunlah lagi. Foto wajib di Kenawa adalah dari jalan setapak yang liatin tanjakan ke atas bukit. Itu foto wajib, kaga afdol kalo ga foto gitu. Tapi karena turunnya gak bareng, apalagi Nola sudah duluan, jadilah foto di sana ga ada yang bareng-bareng. Lagi-lagi juga karena kalah sama panas. 

Baru jam 7 pagi, masih ada dua jam samlai mas Irfan jemput. Kita main di pinggir pantai, cekrak cekrek seperti biasa. Ambil footage video karena ceritanya mau bikin vlog tapi ga dibikin-bikin. Sampai sebelum jam sembilan mas Irfan sudah sampai. Ya, sekitar jam delapan kami beres-beres tenda. Karena rencana selanjutnya ke Pasarean adalah untuk snorkling, dan oleh sebab malas ke kamar mandi umum padahal tenda sudah dibongkar, kita manfaatkan jubah toga untuk ganti celana. Parahnya, pas di tengah-tengah aku ganti celana, mas Irfan dateng mendekat nyamperin. “Jah, alihin perhatian, jangan kaaih dia kemari dulu,” buru-buru bilang begitu, tapi jalannya mas Irfan lumayan panjang. Jadilah aku sambil make celana muterin saung biar ga keliatan. Sumpah, ini misteri kedua setelah Jijah dan money changer, apakah mas Irfan tau aku lagi ganti celana? That’s it.

Tenda sudah masuk carrier, baju dah ganti, mas Irfan menanti, kita cabs ke Pasarean buat snorkling. Eh dalah…pas mau jalan ternyata ada drama jangkarnya nyangkut di karang dulu. Karena ga mau motong talinya (seperti kebiasaan banyak nelayan yang motong tali jangkar kalau nyangkut) mas Irfan pun nyelam. Sekitar sepuluh menit naik turun air buat nyari tempat nyangkut. Arusnya itu loh yang bikin bahaya dan mas Irfan kudu hati-hati. Untung ada ABK dadakan, Jijah, yang siap mengulur dan menarik hati, eh tali maksudnya.

Selama mas Irfan coba lepasin jangkar, aku sih memanfaatkannya dengan foto-foto. Lanskapnya sayang kalau tidak diabadikan. Nih foto-fotonya: by @lisvifadlillah

Gradasi warna laut menandakan kedalamannya.
Pulau pribadi. You are sick if not feel hypnotized by this view 🙂 photo by: @lisvifadlillah

Selama di Kenawa, kita sering lucu-lucuan dengan nama Kenawa. Misalnya dengan buat pertanyaan seperti, “Kenawa air laut warnanya biru,” maksudnya adalah kenapa air laut warnanya biru. Atau nyanyi-nyanyi ga jelas, kenawa oh kenawa (lanjutin lagu Upin Ipin tentang bangau, kodok dan teman-temannya).

Jarak Kenawa-Pasarean cukup dekat, sekita 20 menit perjalanan perahu motor. Sampai di sana, kita diminta isi buku tamu. Hihihi jadi senyum-senyum sendiri gimana lucunya nyemplung pertama kali. Berbekal snorkle, aku nyemplung dekat dengan perahu, karena airnya lebih tinggi dan sudah keliatan banyak ikan. Tapi berhubung gagap renang, ujung-ujungnya pegangan tali perahu aja ga berani ke mana-mana. Jadilah ngentas dulu buat kumpulin nyali lagi.

Pulau Pasarean, pulau pribadi buat snorklingan. Uhuy. Photo by: @lisvifadlillah

Karena khawatir gugup lagi, aku ambil life jacket dan pake alat snorkle lengkpa. Nyemplung ke dua kali pun di air dangkal, gak ada dua meter, bahkan satu meter pun. Dengan pegangan di kolong jembatan, aku mulai susurin pemandangan bawah. Ajib! Langsung diajak ngobrol sama dua clown fish alias nemo. Nemo yang lebih besar nyamperin sampek depan muka oe. Yang kecil di belakanh aja. Di sekitarnya pun banyak dori nyala, biru banget! Eh tiba-tiba ada yang teriak, “awas guys, banyak bulu babi dibawah,” ternyata itu Jijah yang parno liat bulu babi pada melotot. Beneran, mereka kaya melotot gitu, matanya oranye.

Jijah dan Geeta akhirnya cuma renang dipinggiran, sambil foto-foto. Aku bertahan di bawah jembatan, ngobrol dengan teman baru yang nyala oranye. Nola di atas aja, ga berani turun, jadilah dia kami daulat sebagai tukang foto dan video selama kita main air.  Sampai mas Irfan datang mendekat dan ngajakin untuk eksplor ke area yang lebih tinggi dan kaya terumbu karangnya.

Sorry ya no filter 🙂 photo of me by Nola. 

Uwoowww meskipun ga bisa nyelam lantaran pakai pelampung, pemandangan delapan sampai sepuluh meter ke bawah itu amazing banget. Air biru, karang-karang, dan gerombolan ikan. Kurang apa lagi coba? GO PRO! ya, karena Nola gagal membawa go pro, jadilan sepanjang jalan dia harus dengar kami bilang, “coba ada go pro, pasti gambarnya bagus,” dan dia cuek aja. Lama-lama karena merasa pede dengan snorkle, pelampung, dan fin, aku terus renang bahkan mendekat nelayan yang sedang mancing gurita. Sedangkan Jijah dapat short coaching class untuk menyelam dari mas Irfan. Geeta? Dia asik sendiri, dan Nola entah ngapain dari ataa jembatan. Karena bapak nelayannya susah sitemui, setiap aku mendekat bapak nelayannya malah minggat. Serius, kaya main petak umpet. Ya sudahlah, aku balik lagi mendekat ke kapal. 

Di atas jembatan, Nola asik ngasih makan ikan pakai regal. Kita ikutan. Renang-renang bareng ikan. Bahkan aku pun sempat ikut makan regal dari dalam air, belum sarapan coy! Selain warna air, karang dan ikan, ada magical scene yang sangat susah untuk hilang dari ingatan, yakni tembakan sinar matahari yang serupa benang emas berkilau, serupa tirai yang terbuka dan menyingkap banyak keindahan. Magical scenery lainnya adalah melihat gelembung-gelembung air yang bergerak naik ke permukaan. 

Dengan baju basah, akhirnya kita meninggalkan Pasarean menuju Potatano. Karena tidak ada air tawar untuk mandi di Pasarean, mas Irfan menawarkan kita untuk mandi di tempatnya. Sampai jam dua, sambil dengar ceritanya tentang orang baik hati yang memberinya modal mengelola Kenawa, kita siap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Dari cerita mas Irfan, ada doa yang terselip, semoga Jijah bisa beneran kelola resort di Kenawa, aamiin.

Pemandangan siang hari depan rumah mas Irfan, ibu-ibu petan. Di gentong bawah tangga, ada anak lagi berendam lho. Photo by; @lisvifadlillah

Mas Irfan kemudian mengantar kami satu per satu ke pelabuhan. Sampai di sana, kita makan dulu di warung mbak Lis dipelabuhan. Karena mendengar orang warung ngobrol dengan bahsa Jawa, keluarlah rasa satu asal dan sksd ngajak ngobrol pakai bahasa Jawa. Alhamdulillah bebas bea charge hape. Bertemu orang baik lagi setelah pak Tapif, driver yang antar ke Khayangan, pak Irfan, dan mbak Lis (jangan-jangan lanjutan Lis-nya vi lagi, kan samaan nanti namanya). Selesai makan, dibantu putrinya, kami dibelikan tiket harga normal, 70rb untuk berempat (biasanya Rp 18.5rb/ orang) untuk menghindari calo.

Dua jam perjalanan menyebarang sempat hujan. Sore itu cukup tenang, tapi hati kami kurang begitu tenang. Selama di kapal, kami sempatkan bertanya tentang Sembalun. Dapat kontak tentang Puri Rinjani, kita dapat kamar untuk bermalam. Seharusnya jam 6 sore WITA kapal sudah melabuh, tapi karena banyak kapal di pelabuhan, kapal kami bersandar sampai pukul tujuh malam. Alhasil, makin was-was karena belum dapat tumpangan ke Sembalun. 

Entah salah makan apa (kemungkinan yoghurt yang sudah tidak layak makan), aku kena diare. Sementara Gita dan Jijah nyari travel atau tumpangan, Nola jaga barang-barang bawaan, dan aku bolak balik toilet. Sampai jam sembilan mobil belum ada. Akhirnya, kita ambil tawaran dari Puri Rinjani. Makan lagi dulu selagi nunggu jemputan datang. 

Bermain cahaya, warna pelabuhan malam hari. Photo by: @lisvifadlillah

Jalan di lombok itu lurus lurus aja. Sekali belok habis itu luruuuuuus terus. Bedanya, karena arah Sembalun adalah jalan buat pendaki Rinjani masuk, jalurnya menanjak. Sepi, sepiii sekali. Ya, sekitar pukul sebelas malam kami jalan ke Sembalun. Hanya ada satu dua motor atau mobil yang melintas. Tidak ada penerangan jalan raya. Hanya ada rambu-rambu tepi jalan yang nampak seperti lilin. Semacam jalur yang dibuat oleh laki-laki kasmaran untuk mengarahkan pasangannya ke candle light dinner gitu (karena diskripsinya mungkin kurng kuat, kalau ga bisa bayangin mohon maaf tinggalkan saja bagian ini hehe). Kelokannya pun twjam, bahkan ada yang letter U tajam tapi turunan. Only skilled man can handle this!

Jam 12 malam sampai di Puri Rinjani. Gokil, hanya kita berempat tamu yang nempati puri dengan empat kamar. Udaranya dingin. Airnya? Jangan ditanya, cessss banget. Karena mulai dingin, kuputuskan untuk tidur berparka meski selimut lumayan tebal. Okay lanjut besok ya ceritanya…

Puri Rinjani malam hari. 

Menjejakan Kaki, Layangkan Imaji

Hola Lombok, let’s laugh. Photo by:
@lisvifadlillah

Meminjam kata Sang Dalai Lama, Once a year, go someplace you’ve never been before, I did one di awal tahun. Tepatnya 28 Februari sampai 4 Maret lalu. Just like another trip, this one gotta really remarkable. Seriously, I got real mark on my face. But it’s okay. And hope to make another trip soon, anywhere. 
Cerita trip minggu lalu yang begitu membekas, it’s began from December last year. Yep, with Geeta, Jijah, and then Nola join, we planed to make a travel time. Tadinya bingung antara ke Belitung atau ke Bangka. Tapi menjelang beli tiket berangkat, aku usul Lombok dan terbelilah tiket ke Lombok meski belum punya tujuan pastinya, cuma Lombok.  

Vitamin Sea, Photo by: @lisvifadlillah

My travel mate alhamdulillah have a similar thought about traveling new place: a quite and almost empty place to explore. So, aku serahkan schedule dan tujuan sepenuhnya ke Geet dan Jijah. We decide to visit Sumbawa (Kenawa dan Pasarean?), Sembalun (to Bukit Selong and Pusuk Sembalun), and ended in Sade-Kuta Mandalika Lombok. Jadilah sensasi jalan-jalan kami sangat rasa private and so hot-cold be like antara panas pantai, dingin gunung, dan panas wajah oe yang nyungsup aspal. 

Dibandingkan dengan Jijah yang sudah packing bahkan H-4 (if I m not wrong), aku dan Geeta tidak ada apa-apanya. Nola? Who knows kapan dia packing, soalnya dia seperti batu di grup chat whatsapp, ada tapi diem aja. Bahkan, aku baru packing jam 10an malem (22.00) sampai pukul 12 malem baru kelar. Padahal kita ke bandara jam 3 pagi. Benarlah, tidur cuma dua jam. 

Dengan muka ngantuk, nunggulah taksi online depan gang dengan punggung serasa onta yang banyak bawaan. Apalagi tasnya Geeta yang bawa tenda, wow, gede sendiri.FYI jadwal penerbangan kami sebenarnya jam 6.10 WIB, tapi kami putuskan untuk berangkat jam 3 pagi dari kos.

Setelah sampai bandara, paling enggak bisa tidur sejam. Dan selanjutnya, dua jam di atas udara adalah waktu yang mengubek-ubek hati. Literally aku memang jarang bepergian pake udara, jadi sambil ngantuk-ngantuk, di pikiran ngebayangin begimane kalo gravitasi tiba-tiba berkonspirasi sama bumi untuk istirahat bentar dan pesawat kami blek jatuh. Oh my Lord, emak bapak belum tau anaknya sedang bepergian ke luar pulau. Wosh…perasaan makin ga enak, apalagi waktu berangkat hujan deres banget.

Lautan awan. Photo by:
@lisvifadlillah

Sebagai upaya menghibur diri, kutengoklah jendela kiri. Awan-awan putih yang cem lautan, luas ga keliatan batasnya ngundang-ngundang buat berkhayal. “Gimana kalau itu bener kaya di serial kartun Doraemon, bisa diinjal dan bikin membal-membal, woh, seru dan ajib pastinya.” Tapi tetep aja, meski kalau nginjek tanah salah satu objek favorit fotoku adalah awan, berada sejajar bahkan lebih tinggi membuatku sedikit nervous dan ingat Tuhan. Thanks God.

Dua jam penuh penyiksaan dan penghiburan berlalu. Mendaratlah kami di bandara international Lombok (BIL) atau Lombok International Airport (LIA). Begitu mendarat, bukan hanya rasa sukur bisa kembali menyentuh bumi, tapi perasaan bebas dari bayang-bayang kebelet pipis pun segera terjawab. Jangan heran kenapa aku ga ke toilet pas di kabin, ya elah boro-boro, hari itu nyali sedang tidur pules makanya aku cuma bisa duduk ngempet sambil doa biar cepat turun. Hah.

Photo by: @lisvifadlillah

 Toilet pas di sebelah kiri, dari tiga bilik toilet hanya dua yang berfungsi. Untungnya yang ngantri ga banyak-banyak amat. 

Keluar dari toilet, melangkahlah kami dengan pede. Tapi satu misteri sampai hari ini, kenapa Jijah larinya ke money changer ya dibandingkan ke bank atau atm. C’mon, it’s Lombok and we do transaction all in rupiah. Kalo kamu baca bagian ini dan mau jawab, monggo Jah. 

Karena kami memang niat traveling bukan ikut travel agensi, semua ditanyakan dengan basa-basi. Bahkan kami tunjuk si Jijah dan dibantu Geeta sebagai duta alias negosiator. Sebagai orang betawi, terutama jijah, meski tanpa basa basi, tawar menawarnya patut jadi senjata. Oke cukup dulu bahas ini. Jijah dan Geeta menanyakan perihal bus Damri menuju Mataram(?) dapatlah tiket seharga Rp 25rb per orang.

Tip pertama: jangan langsung jawab sambutan hangat orang travel, ojek, agen bus, atau supir taksi. Tenang, santai dan pikirlah dulu baru negosiasi. Ya, sebagai tip lanjutan, di Lombok, semua wajib dinego aja shay, dinego sampai okayyyy.

Cek Damri

Kami sampai di Lombok jam 9 WITA (bentar, bantu hitung. Kalau WITA maju satu jam, kalau berangkat jam 6 WIB berarti benar kan sampai jam 9? Eheh). Jam 10WITA bus Damri datang. Kami turun di terminal (bentar, lupa nama). Dari sana harusnya ada bus, tapi suwag ditawarin yang harganya Rp 150k perorang atau travel yang harganya mending tadi ngambil dari BIL -Kzl-. 

Mendapat kenyataan pahit itu, dua negosiator maju, Jijah dan Geeta. Ga tanggung-tanggung, kepala terminal dinego shayyy. Berkat pak Tapif sang kepala terminal baik hati yang satu asal sama kita -dari jkd- akhirnya diantarlah kita sama ponakannya. Itu terjadi setelah proses negosiasi kurang lebih satu jam. Jadi setelah sampai termibal jam 11 WITA, jam 12 berangkat, sampai Pelabuhan Khayangan jam 2. Lelah? Yes, charge dulu, ya perut ya hape. 

Nyebranglah kita ke Pota Tano dengan harga tiket yang tidak kalah misterius. Sang calo nawarin Rp 17rb, sedangkan menurut Bu Lis pemilik warung di pelabuhan Pota Tano, tarif normal Rp 18.500 -ini kita baru tau saat mau nyebarang balik dari Potatano. Lucunya, si bapak calo malah ngatain petugas tiket pelabuhan ga iso ngitung. Weleh, aku keder sopo sing bener haha.

Scenery from our feri. Photo by: @lisvifadlillah

Dua jam di atas feri, duduk kami berhamburan. Jijah dan Nola di dek belakang, aku dan Geeta milih di samping karena ga kebagian tempat teduh di dek. Byuh…semilir angin, laut biru, air yang berderak, dan bukit-bukit yang menyapa membentuk landskap super duper damai. Efek sampingnya aku dan Geeta tertidur. Turunnya di Potatano ruar biasa panas. Nyarilah toko adem yang jualan minuman dingin sambil nunggu yang punya Kenawa, mas Irfan. 

Nyebrang sekitar 30 menit, kami sampai di Kenawa. Totally private island feel like when you visit on week days. Cuma ada enam cewek poto-poto syantik, dan dua bule bersama tour guide berambut gimbak dari Lombok yang dengan ramah menyambut kami. Asli, kukira mereka yang punya pulau, taunya turis uga. 

Nyebrang pulau pake signal! Photo by: 
@lisvifadlillah

Sebelum foto-foto, kami diriin tenda dulu dibantu mas Irfan. Tenda berdiri, kami berlari bergaya di depan ponsel sendiri-sendiri. But not for me, aku hanya berusaha mengabadikan setiap senti dari jarak pandang mata. Video-foto-video-foto. OMG! I could live for a week there. Mas Irafan pamitan, bakal jemput kami jam 9 esok paginya. Sebelum pergi, kami foto bareng dulu. Cek di ig @pulaukenawa barangkali da foto kami sudah diposting di sana. 

What I got, amazing! Photo by: 
@lisvifadlillah

In very private Island feels like, xoxoxo 
Wow, ada ayunan uga! Unch unch

Semua foto sore hari by:@lisvifadlillah

Sesi nyari foto-foto sendiri makin menjadi. Kami susuri pulau ke kanan sedikit, tapi sayang lupa ga sampai ke rumah botol karena makin gelap. Tapi itu sore yang amaaaaat indah! Aku sempat lari ke tengah lapangan rumput setinggi lutut. Baring di bawah rumput, liat langit dengan bingkai lancip-lancip ujung rumput. Dengar suara belalang sembah sore, desir angin, langit bersih, dan I m totally feel free. Setelah sesi alay dengan alam, aku jumpalitan. Mau nyoba pinca, pose imversi di yoga, tapi yang ada aku gulang-guling jumpalitan tak nggenah but it was very fine afternoon. 

Malamnya, karena lapar. Kami mendekati pusat genset untuk mendapat asupan charge hape dan perut lagi. Tidak ada pilihan lain, mie instan masuk perut. Padahal niatnya mau beli air panas aja biar bisa masak mie karton. Ya, you don’t have to worry cus there were a warung and toilet to comfy you. Berempat di tenda mungil kami menata diri menghadapi malam. Ya, karena dalam sehari kami sudab menempuh perjalanan lewat udara, darat, laut, dan laut serta berhubung tidak ada personel laki-laki yang bawa gitar lantas pandai bernyanyi, malam lekas kami abaikan dan lebih memilih merem. 

Swag! Bintangnya jelas bangetttt. Unfortunately, no one of us brought any compatible camera yang bisa moto itu langit. Tapi ya sudahlah…mari rapatkan barisan menuju pagi. Continue to next cap ya…

Rasa Mengabdi

    Profesor Zainal Mutaqqin, 15 Tahun           Mengembangkan Operasi Epilepsi

Prof Zainal Muttaqin. Credit foto: Stephani Claudia Kamadjaja

Penderita epilepsi sering mendapat stigma buruk. Sebagian budaya menganggap mereka kerasukan atau tidak waras. Padahal itu disebabkan masalah listrik di dalam otak. Bukan tidak ada obatnya, tapi sebagian epilepsi tidak menanggapi. Terapi operasi pun jadi pilihan baru yang dikenal luaskan di Indonesia oleh professor Zainal Mutaqqin.


 

LISVI NAILATI PADLILAH

 

Sosoknya sangat ramah, disela kesibukannya yang padat sebagai dokter, profesor Zainal dengan semangat berbagi visinya tentang operasi epilepsi kepada Jawa Pos. Ya, berbicara tentang epilepsi, khususnya operasi bedah epilepsi di Indonesia tidak akan terlepas dari sosok ramah berkaca mata itu. profesor Zainal Mutaqqin bisa dikatakan sebagai orang yang membawa metode bedah untuk mengatasi epilepsi.


 

Bukan perkara mudah membawa metode baru ke Indonesia. Bukan hanya harus meyakinkan masyarakat akan metode bedah epilepsi, Zainal pun harus berhadapan dengan teman sejawat dari profesi kedokteran. ’’Mereka belum mengerti, jadi belum bisa terima,’’ ujarnya. Perkenalan dengan epilepsi sampai akhirnya memutuskan berfokus pada bedah epilepsi pun bukan waktu yang singkat. Proses membawa hal baru yang dilakukan prof Zainal pun kini berlangsung lebih dari 20 tahun.


 

Prof Zainal yang sederhana lulus dari kedokteran Universitas Diponegoro pada 1981. Baru enam tahun kemudian, tepatnya tahun 1987, dia mengambil spesialis bedah saraf. ’’Saya belajar saraf secara umum dan  lanjut bedah saraf di Jepang Jepang,’’ ungkapnya. Di Universitas Hiroshima itulah Zainal melangsungkan studinya sebagai mahasiswa spesialis saraf dan S3 Ilmu Bedah Saraf hingga masa studi berakhir pada 1984.


 

Sepulangnya ke Indonesia, Zainal tidak serta merta menjadi dokter bedah saraf yang mengembangkan operasi epilepsi. ’’Tetapi waktu itu saya berpikir, apa yang masih menjadi masalah bangsa Indonesia. dan salah satu masalah yang harus diperhatikan ya epilepsi,’’ ucap ayah tiga anak itu.


 

Lantas, selama dua tahun pertama sejak memutuskan akan berfokus pada masalah epilepsi, profesor Zainal masih wara-wiri ke Jepang untuk belajar di berbagai epilepsy center. Terkadang, dia harus menghabiskan waktu satu minggu, satu bulan, atau beberapa bulan di Jepang dalam rangka kunjungan studinya. ’’Untungnya saya didukung oleh tim,’’ tambahnya.


Prof Zainal bersama tim bedah RS Undip Semarang tengah mengoperasi Claudia Kamadjaja. Credit foto : ClaudianKamadjaj

Selain bolak-balik ke Jepang untuk berkunjung dan belajar di center epilepsi Jepang, profesor Zainal pun berkeliling Indonesia lewat acara-acara seminar, symposium, atau pertemuan dokter saraf. ’’Saya buat poster, tulisan, dan macam-macam supaya bisa presentasi,’’ ucap Zainal. Selain presentasi sendiri, dia pun mengundang gurunya, profesor Arita, untuk datang memberikan lecture pada sesama dokter saraf lewat berbagai seminar dan symposium di seluruh Indonesia.



Rutin mengenalkan diri, tibalah pada 1999 seorang dokter saraf dari Salatiga merekomendasikan seorang pasiennya ke Zainal. Pasien yang dirujuk pertama kali tersebut adalah seorang perempuan usia 43 tahun. Dia harus menghadapi siding perceraian karena epilepsinya. ’’Setelah konsultasi dengan guru dari Jepang, akhirnya operasi pertama orang Indonesia dilakukan,’’ ujar Zainal.


 

Meski sudah belajar di berbagai centerepilepsi, nyatanya sang profesor masih harus belajar langsung mengaplikasikan ilmu. Selama dua tahun pertama, perannya dalam operasi disupervisi oleh gurunya sendiri dari Jepang. ’’Selama dua tahun penuh, profesor Arita mendampingi saya,’’ ucapnya. Setelah dua tahun, profesor Zainal bersama dua orang bedah saraf yang menjadi timnya pun sudah mulai mengoperasi pasien sendiri.


 

Langkah dokter spesialis bedah saraf itu tidak cukup hanya mampu memiliki center epilepsi di Semarang. Dia pun tetap masuk-masuk dalam ruang seminar bedah saraf untuk terus memberikan pemahaman baru pada rekan sejawatnya. Karena tidak jarang, Zainal mampu meyakinkan masyarakat, tetapi justru dokter saraf lain yang belum paham melemahkan keinginan pasien. ’’Misalnya ada pasien datang ke dokter saraf yang belum paham dengan operasi bedah saraf, mereka justru menakut-nakuti dengan efek samping jika terjadi kesalahan operasi,’’ ujar Zainal.


 

Ya, tidak bisa dipungkiri, operasi bedah epilepsi jauh memiliki risiko tinggi dibandingkan operasi otak atau saraf lain semisal stroke atau trauma akibat kecelakaan. ’’Angka kesalahan harus dibuat mendekati nol,’’ tegasnya. Hal itu karena penyandang epilepsi sudah biasa dengan kejang, tetapi fungsi tubuh semua baik. Hanya saja jika terjadi kejang terus menerus bisa menyebabkan kerusakan. Nah, jika pasien yang cedera otak karena kecelakaan, lalu dokter yang mengoperasinya berhasil, maka bisa jadi semacam prestasi dokter. Tapi kalau operasinya gagal, ya dokter bisa saja menyalahkan derajat keparahan cedera pasien. Menurut Zainal, itu sangat berbeda dari epilepsi. Tujuan operasi adalah untuk membuangnya, jika kemudian pasien tidak bisa menggerakan tangan, sudah pasti itu salah sang dokter.


Prof Zainal bersama salah seorang pasiennya, S. Claudia Kamadjaja. Photo by: S. Claudia Kamadjaja

 

Akibat tuntutan itu, dokter cenderung memilih untuk mengurusi masalah saraf dan otak lain. ’’Wong mengoperasistroke atau rusak akibat kecelakaan saja sudah muntah-muntah rasanya, saking banyaknya,’’ sindir Zainal. Padahal, dengan menghitung perbandingan jumlah pasien epilepsi di Indonesia, jumlahnya mencapai dua juta orang. Dari dua juta, sepertiga atau 700 ribu orang kebal obat atau tidak bisa diobati. Sedangkan dari 700 ribu tersebut, hanya 350 yang bisa dilakukan tindakan operasi.


 

Angka 350 jiwa terdengar kecil, tetapi dokter Zainal merasa tidak sanggup kalau harus sendirian atau bertiga bersama timnya mengoperasi sebanyak 350 ribu orang tersebut. ’’Lima belas tahun saja baru 500 pasien, bagaimana dengan 345500 pasien lain? Harus ada dokter lain yang mau belajar operasi ini agar sisanya itu ada yang menangani,’’ tambahnya.


 

Untuk itu, Zainal berharap, setidaknya di setiap ibu kota provinsi atau pulau ada center epilepsi. paling tidak, Kalimanta, Sumatera, Papua atau Sulawesi tidak perlu terbang ke Jawa untuk dioperasi. Dia juga berharap beberapa tahun mendatang, di kota besar lain di Jawa ada center juga. Salah satu upayanya menyebarkan center ya dengan mengajarkan dokter bedah lain untuk operasi.

 

Prof Zainal bersama tim bedah syaraf RS Bunda Menteng, Jakarta Pusat. Credit foto: dr Irawati SpBP 9spesialis bedah saraf)

Baru-baru ini, selama dua sampai tiga tahun belakangan, Zainal mengaku sedang mendampingi dokter Irawati Hawari SpBS dan dr Ibnu SpBS dari Rumah Sakit Umum Harapan Bunda Menteng. Ya, di Jakarta lewat perepanjangan dua dokter tersebut, prof Zainal menjadi tim yang ikut mengoperasi pasien epilepsi dari Januari lalu. Sampai saat ini, di Jakarta sudah ada 3 pasien yang dioperasi. Bukan hanya Jakarta, menurut prof Zainal, setiap rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah saraf mikro dapat melakukan operasi epilepsi. ’’Sekarang tinggal kemauan dokter dan dukungan tim dari masing-masing institusinya saja,’’ tutup Zainal. (lin/)



Tulisan tentang profesor Zainal Mutaqqin telah dimuat di harian Jawa Pos Metropolitan edisi 13 Februari 2017 dengan judul dan teks konten tersunting oleh redaktur dan copy editor. Judul versi Metropolitan, “Profeso Zainal Mutaqqin, 15 Tahun Mengembangkan Metode Operasi Epilepsi: 500 pasien yang dioperasi bisa sembuh.” Sedangkan tulisan dalam blog adalah mentah dan belum teredit. 



 

 

Perempuan Batu Pematung Angin

L​epas Tangkap, Yani Mariani Sastranegara, Perempuan Tiga Elemen: Angin, Air, dan Batu

 

Yani di studionya, Yatra studio, mengerjakan Sekar Rampak. Photo by Lisvy nael

Alam adalah inspirasi terhebat bagi siapa saja, termasuk untuk Yani Mariani Sastranegara. Mengambil filosopi angin, air dan batu, karya Yani mengambil bentuk. Terutama angin, baginya adalah esa, tidak tampak namun berdampak. 

 

LISVI NAILATI PADLILAH

 

Memasuki gerbang setinggi dua meter, pandangan mata langsung disegarkan oleh rimbunnya pepohonan. Dari pohon nangka, cemara tua, hingga cendana yang masih di bibit. Jika menengok ke sebelah kiri gerbang, ada sebuah pohon dengan tampilan unik. 


Sebuah batu raksasa berbentuk menyerupai telur berwarna cokat , terlihat absurd menyangkut di antara dahan-dahannya. Dari balik pohon itulah, bilik tempat Yani mencurahkan idenya. Mengadakan bentuk dari tiada menjadi ada. 

 

Kesan rindang dan sejuk itu memang menyebar ke seluruh penjuru rumah studionya, Yatra Studio. Bahkan hal itu juga terpancar dari wajah dan tutur kata Yani yang meneduhkan. Dengan diselingi tawa ringan dia banyak bercerita tentang berkarya, tentang proses Tangkap Lepas atau Lepas Tangkap yang menjadi salah satu filosofi dalam hidup Yani yang mencipta.

Tangkap Lepas adalah potret sebuah hubungan mahluk dan hamba, dari meminta (melepas doa dan harap) dan tertangkap dalam bentuk ide. Lalu demikian prosesnya berlanjut dari tangkap untuk dilepas. Dilepas menjadi sebuah karya yang diterima. Sebuah karya yang meneduhkan mata meluaskan makna.


Siapa Yani? Perempuan yang dilahirkan di Rangkasbitung, 17 Agustus 1955 silam itu pematung terbaik Indonesia saat ini. Julukan yang disematkan kurator itu bukan tanpa sebab. Karena karya-karya Yani tersebar di berbagai tempat di Indonesia dan dunia. Di kediaman pribadi, gedung perusahaan, galeri dan museum, hingga kediaman presiden di Istana Bogor. Yang disebut terakhir itu, termasuk ciptaanya yang paling berkesan.

 

Ya, Jiwa Nan Merdeka, karya yang Yani ciptakan dalam waktu tiga jam tanpa rangka berakhir di ruang depan Istana Bogor. ’’Buatku itu menimbulkan kesan yang menyenangkan,’’ ujarnya saat ditemui di studio Yatra, jl. Sumatera 58 Jombang, Ciputat, Tangeran Selatan, Selasa (10/1) lalu. Bukan hanya istimewa karena tempat tersebut adalah kediaman presiden, tetapi tamu-tamu dunia yang datang ke sana pun disambutnya dengan patung yang dipamerkan 2008 lalu itu. 

 

Buat ibu dari tiga anak itu, tempat berakhirnya patung yang dia karyakan memang tidak pernah dibayangkan. ’’Saya tidak pernah membayangkan atau mencita-citakan apa yang saya buat akan berakhir di mana,’’ ucap Yani. Semua berjalan sesuai dengan proses, dan dia menyerahkan sepenuhnya pada proses, bukan ekspektasi yang kadangkali menyakiti. 

 

Demikian pula pada setiap yang dikerjakannya. Yani menyerahkan sepenuhnya bentuk karyanya pada sang proses. ’’Kalau dulu bisa saja membongkar patung yang sudah jadi karena merasa tidak pas, sekarang lebih cool, sudah lebih pandai mengukur, hehe,’’ ucapnya diiringi tawa. Demikianlah Yani, selalu mengiringi obrolan dengan keramahan dan tawa. Membuat nyaman dan tenang siapa saja yang disekitarnya. 


Yani sedang memoles Rampak Sekar, sebuah patung penari. Photo by lisvy nael

 

Istri Kusmei Santo itu lulus dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang saat itu bernama Lembaga Pendidikan Seni Jakarta (LPKJ) tahun 1980. Setelah menikah, dia pun vakum. Berpindah dari Jakarta ke Bali. Tidak ada kegiatan berseni yang dia kerjakan sampai pada tahun 1990, dia diajak berpameran. Terbilanglah Yani kembali aktif mematung sejak saat itu. ’’Setelah sempat lama vakum, saya kira telah kehilangan rasa untuk mencipta, ternyata Alhamdulillah saya bisa, sampai sekarang,’’ ungkapnya penuh suka cita.

 

Rasa Angin, Batu dan Pohon

Seperti yang disebutkan sebelumnya, sosok Yani banyak mengambil bentuk dan inspirasi dari alam. Angin, air, dan batu adalah unsur alam yang dominan. Tetapi anginlah yang dia anggap paling suci. 


Baginya, angin ciptaan Tuhan yang paling mewakili-Nya, ada namun tidak terlihat. Hanya dampak yang disebabkannyalah yang mampu ditangkap, seperti daun yang bergoyang, atau  puting beliung. Tetapi tidak ada satupun yang pernah melihat wujud angin sesungguhnya. Dia Agung.

 

Dari angin, ada beberapa karya Yani yang dapat dilihat di tempat umum. Sebut saja Menggapai Cakrawala yang indah berdiri di Pakuwon Surabaya, atau patung Zeus di Cibubur. Jiwa Nan Merdeka pun demikian, menghadap atas dan meliukkan bentuk angin. Tidak terkecuali karya-karyanya yang lain semisal Beyond the Tides, Vina Dance, Dihembuskan Bayu Senja, Mandala Bayu, Mengejar Angin, atau Doa Bagi Arayashi.


Beyond the Tides karya Yani Mariani Sastranegara Courtesy: Indonesian Women Artists. The Curtain Opens

Selain angin, karya Yani banyak mengambil bentuk batu. Ya, masa kecil yang dihabiskan di Sumatera itu membentuknya menjadi perempuan serupa batu, keras namun halus tetapi bisa juga cadas. Mengoleksi batu pun menjadi bagian dari kesenangannya. Hingga teman-temannya pun terkadang mengirimkan batu atau memesan sesuatu berbentuk batu. 


Oh ya, ada sebuah ritual yang dilakukan Yani sebelum mengubah bentuk benda-benda menjadi patung. Dia akan melakukan diskusi dengan benda-benda yang akan diwujudkannya menjadi sebuah karya. ’’Oh nanti kamu jadinya seperti itu,’’ tiru Yani pada dialognya dengan batu-batu. Hal itulah yang menuntunnya untuk berkreasi kemudian. Memasrahkan bentuk pada bimbingan alam. Bukan pada kehendak dirinya. Dengan demikian, dia merasa diterima sebagai pengubah. 

 

Yani sempat mencengangkan khalayak ketika karyanya bertema Endless dalam pameran CP Biennale 2003. Dia menggantung sekitar 800 batu di atas permukaan air. Dengan ukuran dan bentuk yang beragam, dia menggambarkan bahwa batu yang berat pun dapat diangkat, serupa masalah manusia. 


Selain Endless, karyanya yang mengambil bentuk batu adalah Benawa dan Mahayunan Ayuna Ruhui Rahayu (Mayara), Soulmate, dan Barisan Ufuk.


 

Bukan cuma rasa angin dan batu, Yani pun nampaknya tidak bisa mengelak tentang kedekatannya dengan pohon, sang penjaga alam. Ya, salah satu dari lima pendiri pecinta alam di LPKJ itu tidak bisa menjauhkan diri dari unsur pohon. Barangkali hal itu dia dapatkan juga karena pengaruh masa kecilnya yang menghabiskan masa di kebun karet tanah Sumatera bersama tugas sang ayah.

 

Dalam beberapa pameran terakhirnya, dia memanfaatkan akar untuk mencipta patung. Tidak hanya patung manusia, wujud pohon setinggi 20 meter pun hampir menjadi penghias gerbang terminal tiga bandara Sukarno Hatta. ’’Namun belum berjodoh, mereka bilang maintenance-nya akan berat,’’ ungkapnya. Ya, pohon setinggi 20 meter dengan simbo-simbol perdamaian itu tidak jadi dipasang di gerbang Bandar udara. 

 

Mengunggah Rasa Bhineka yang Esa

 

Sebagai seorang Muslim taat, Yani mendapat kehormatan dari Romo Rochadi Widagdo Pr, untuk menciptakan patung-patung mulia untuk gereja mereka. Pertemuan pertama mereka kala itu (2011) untuk mengisi ruang di Gereja Katolik Paroki Kristus di Pejompongan, Jakarta Selatan atau dikenal gereja Daun. ’’Maaf Romo, saya kurang mengerti’’ kenang Yani saat berupaya menolak tawaran dan ajakan Romo pada tengah malam kedatangan Romo bertamu di kediamannya. Namun, dia diberi waktu berpikir untuk menerima ajakan Romo Rochadi.

 

Mau tidak mau, karakter Yani yang tidak bisa menolak tawaran baik, menerimanya. Lewat dua minggu setelah menyetujui ajakan, Yani tidak menemukan bentuk apa-apa untuk diwujudkan. Namun, setelah itu dia mendapat sebuah mimpi banyak berlian dalam studionya.


Akhirnya, kerang yang diterimanya dari Eomo pun disulaplah menjadi sebuh tempat menaruh piala dengan bentuk segi delapan seperti bentuk berlian. ’’Tidak disangka, ternyata bentuk langit-langit gerejanya adalah segi delapan,’’ ujarnya takjub bagaimana Yani merasa dimudahkan jalannya. Mendapat petunjuk yang tiada luput disyukurinya.

 

Setelah membuat tabernakel, Yani pun menggarap bagian lebih besar yakni dinding. Dikerjakan dengan proses belajar lagi tentang keyakinan umat Kristen, Yani membentuk relief sepanjang 20 meter dengan ketinggian lima meter. ’’Rasa haru menyelimuti saat di hadapan umatnya, sewaktu romo menjelaskan karya saya,’’ kenangnya. Bisa saja Yani menangis meledak kala itu karena dipenuhi rasa merinding dan takjub sendiri, akan tetapi sang romo mampu mengalihkan emosinya.

 

Dari mengerjakan beberapa bagian penting di Gereja Daun, setelah Romo Rochadi pindah gereja di Gereja Katolik Santo Yohane Maria Vianney Cilangkap, Yani pun kembali dilibatkan untuk mempercantik gerejanya. ’’Itu sebuah kehormatan yang menyenangkan,’’ tuturnya. Bagaimana Romo memercayakan tempat kristusnya kepada seorang yang bukan dari agamanya.

 

Tentu Yani tidak berhenti di situ. Di sela-sela mengerjakan karya untuk gereja, pada April 2015 lalu, dia membuat patung presiden ke empat, Abdurahman Wahid atau Gusdur. Patungnya pun  diresmikan oleh gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok beserta menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansyah di jalan Pegangsaan, tempat Gus Dur menghabiskan masa kecilnya dengan membaca.

 

Sebagai seorang ibu, Yani juga banyak mendapat inspirasi dari anak-anaknya. Sebut saja Melihat Surga Sang Anak, atau Cucunya Orangtua, karya-karya tersebut tidak lepas dari hasil inspirasi putra bungsunya, Abima Nara Satriangga. ’’Saya tidak mau lihat surge, kaki ibu kotor,’’ begitulah kira-kira Yani menyontohkan kalimat anaknya kala itu.

 

Kedekatan dengan putra-putrinya pun tergambar bagaimana dia berinteraksi. Bahkan, putra pertamanya, Aditya Naratama, yang bekerja di bidangbroadcasting pernah mengerjainya. Lewat siaran radio yang dipandu Kemal. Kemal menelponnya dan mengaku sebagai seorang asisten di galeri Bali, tempat dia melakukan pameran. ’’Karya ibu sekarang jelek-jelek ya, saya tidak suka, akan saya kembalikan,’’ ucap Yani menirukan Kemal waktu itu. Sudah hampir kaget, Yani pun menyadari jika itu adalah keisangan anaknya. Dia pun tidak sampai terpancing emosi.

 

Salah satu karya Yani yang diinspirasi anaknya berjudul Melihat pada Surga Anaku. Courtesey: indoartnow.com

Di usianya yang semakin matang, Yani tidak berhenti. Dia terus berkarya, mencipta. Dia saat ini sedang mengerjakan patung setinggi 11 meter, berdiameter 11 meter dan lebar 11 meter dengan 11 figur penari sebagai bentuk. Ya, dia memang penyuka angka 11. Dilain 11, angka 7 menjadi favoritnya. “Angka penuh misteri dan makna,” ujarnya. Karena dari angka 7 banyak bentuk yang terwujud. Siku tangan, lekuk tubuh, hingga sudut.


Selain karya Rampak Sekar, dia juga sedang menyiapkan pameran patung mini untuk 17 Maret mendatang di Taman Ismail Marzuki. Tetaplah berhembus angin Indonesia, Yani Mariani Sastranegara.

Dipublikasikan di harian Jawa Pos Metropolitan pada 15 Januari 2017 dengan 

Manusia mahluk dinamis. Bahkan ketika ia dalam bentuk statis. Jangan remehkan tubuh yang rebah, diam, terlihat tenang di balik bilik. Boleh jadi, di atas dipannya ia sedang menaksir. Sedang berpikir. Sedang berdzikir. Tidak statis, namun dinamis.

A girl questioning the world outside her window

Malam yang semula diutus menjadi waktu yang digemingkan, kini tidak lagi. Perayaan demi perayaan tersorak di mana-mana. Cahaya silau dan yang berpendar, saling berebutan. Malam tidak lagi melulu soal diam, soal malam, dan soal senyap.

Ada nada sumbang dalam hidup malam yang dibangkitkan paksa. Ada yang merasa biasa. Ada pula yang terusik merasa asing dan rindu kembali senyap.

Ketidakmampuan manusia untuk diam menjadikan malam pun berdansa. Bergerak pora. Mendiamkan diam. Meninggalkan hening. Mencipta gaduh, dan menjadikannya kawan bercengkrama. Tentang apa-apa yang biasa atau sama sekali luar biasa.

Quite

Mungkin, suatu kali, kau melihatku diam berdiri di atas rel kereta api, di dalam sebuah gerbong berwarna pink, dan bergantung di atas tali. Atau aku di dalam gerbong, duduk di kursi hitam, dan membaca buku. Aku terlihat tenang, dan diam. Begitupun aku. Suatu kali melihat kau termenung sendu di atas bangku taman tanpa lampu. Kau terlihat biasa. Padahal hati kita gelisah tiada tara. Pikiran kita mengembara. Tidak ada yang mampu memenjarakan dan mendiamkan kesadaran dan pikiran kecuali diri kita. Kita tidak pernah diam.

Namun, sesekali cobalah diam. Duduk atau berbaring sambil menutup mata. Biarkan pikiran tetap di tempatnya, di kepala kita. Tutuplah mata, lebarkan telinga. Dengarkan apa saja yang melewati indera pendengaran kita. Resapi apa yang menghujani batin kita dari setiap suara atau rasa yang melintas dalam hati lewat kulit kita. Tanp melihat, tanpa menilai.

A tap: Symbol of power determination

Masuklah dalam ruang diam. Bergeraklah dengan statis, bergerak dalam diam, lewat senyum. Pandang jauh ke dalam diri kita. Tanyakan, sedang apa dan bagaimana kabarnya. Kenapa akhir-akhir ini ia susah memejamkan mata di malam hari? Atau kenapa ia merasa doa-doanya tidak pernah menyata. Sedihkan ia? Kecewakah rasanya? Atau dia justru merasa bahagia tanpa harus menunggu pinta hanya terus berjalan saja.

Missery: a sculpture by Nyoman Nuarta

Hari ini, dengan segala kegelisan dan kekhawatiran yang ditanggung hati. Aku melangkah memberanikan diri mencari masalah. Masalah yang seharusnya tidak menjadikanku kecil dihadapanku sendiri. 

Berjalanlah aku bersama diri. Mencoba mengajak dan mengajarkannya tak perlu worry. Meski perasaannya sesekali menunjuk diri, menyalahkan karena mencari mati!

Oh! Aku pun pertanyakan tentang perjalanan yang sudah kutempuh. Sewajarnya, setiap langkah menuju masa lalu mendewasakanku. Akan tetapi, apalah arti dewasa jika aku tak mampu merasa aku. 

Malam ini, dengan latar belakang suara binatang malam, kutetapkan hati di sini. Luar kampung Baduy. Mencari sedikit remah tamah untuk diriku. Ternyata tidak ada tempat yang benar-benar senyap. Tempat tersunyi adalah diri kita sendiri. Saat ia tak lagi mampu mendengar suara Ilahi. Hanya dengung hampa yang menyayat hati tapi ia tak tahi mengapa.

The eye: a gate

Ini bukan kontempelasi. Melainkan sebuah ajakan diri pada inti untuk hening sejenak. Geming dan jauhkan semarak. Percaya sepenuhnya untuk tidak beranjak dan berjarak. Cukup di aini, saat ini, tanpa risau waktu yang akan jadi masa lalu. Hening sejenak tanpa merasa tidam enak. 

Baduy, Kamis, 03-11-2016

Note : all pictures are mine, exp the last one (the picture of blue eye is not mine, but so sorry couldn’t remeber the owner for credit. Just tell me if you know, thanks)

Kebohongan adalah kebenaran yang kau yakini. Yakini benarnya, atau kau yakin akan satu kebenaran yang belum saatnya kau ungkap. Ya, kebohongan adalah kebenaran.

Jembatan ini tidak panjang, namun tidak pendek atau sedang. Ini bergantung persepsi. 100M atau 200M hanya ukuran, nilai 100 persen milik Anda.

Tidak ada kebohongan sendiri. Artinya bukan hanya kebohongan akan melahirkan seribu kebohongan lain. Tetapi, tidak ada kebohongan yang terlepas tanpa disadari, ia tidak sendiri melainkan ada bersamamu. Bersama kesadaranmu.

Kebohongan yang diucapkan dengan alasan menyembunyikan kebenaran, ialah kebenaran. Dia datang dari dalam pikiran. Kesadaran. Kepatuhan. Akan kebenaran yang ingin dipendam. 

Yang samar bukan berarti tidak ada

Kebohongan adalah tanda kecerdasan. Di mana nalar telah dipamerkan dan berdaya guna memilah subjek yang perlu didengar orang atau tidak. Subjek akan ada, akan kebenaran. 

Tiada kebohongan yang pernah dicipta siakan. Tuhan tidak pernah menciptakannya. Bohong adalah sebuah kata untuk menegasikan fakta dan kenyataan bahwa suatu itu ada. Padahal, fakta tidak pernah ke mana-mana bahkan saat ia “ditiadakan.” Nyata tetap ada. 

Akan tetapi, manusia dengan peradaban tinggi menyulap bohong menjadi goa. Ya, bohong seperti goa. Tempat semua kebenaran disembunyikan. Tempat semua kebenaran tidak diceritakan. Tidak kasatmata. Disimpan dapat-rapat. Tetapi bukan berarti dia sia-sia dan tidak ada.

Begini, dalam imajinasiku, kebohongan serupa goa, adalah dia gelap melingkupi. Tidak membiarkan kebeneran bebas di bawah matahari bahkan dibawa angin. Padahal, sewaktu-waktu goa pun memiliki risiko terkubur. Begitupun dengan kebohongan atau dalam kata lain kebenaran itu sendiri.

Bukan! Bukan benar-benar terkubur. Tidak usah risau lantaran kebenaran selalu ada di mana-mana. Tinggal bagaimana kacama mata setiap orang saja menilai. Apakah ia benar ataukah ia kebohongan. Apakah itu benar atau anggap saja benar.

Jangan bermuram durja merasa hina berprasangka nestapa karena kebohongan. Tidak ada yang tidak tahu kebohongan. Bahkan mungkin, mungkin kau pun berpura-pura memahami kebohonganku lewat kata-kata ini. Padahal dalam hati, kau tau betul yang kukatakan adalah ketidak jelasan, kebohongan. Tapi kau berlakon saja, mengerti saja, agar tidak dianggap bodoh. Agar terlihat berhati mulia mendengar suara sengau.

Jangan! Jangan berputus asa merasa sendiri saja terlibat dalam kebohongan. Semesta ini adalah kebohongan dalam kebalikan. Tidak ada yang bohong! Semua adalah kebenaran. Hanya tata dan caranyalah yang berbeda. Kebohongan sudah dinilai hina. Sejak saat itu, kebenaran yang disampaikan dalam sebuah kata lain dianggap bohong. Dan terkutuk. 

Photo by Haritsah Almudatsir

Senin 24/10/2016 1:34am

Seperti malam-malam sebelumnya, aku pun merancang kata untuk dipamerkan. Kebohongan mana yang kiranya bakal disuka mereka, atau kebenaran mana yang harus diolah bahasakan? Ya, benar dan bohong adalah pilihan atas satu hal. Memilih benar atau bersikap benar dengan menggugurkan kebenaran lainnya.

Manusia itu mahluk diri. Semua hal di luar diri akan memantul kembali pada diri. Tidak mau tersakiti, lantas memproteksi dengan sekelebat glorifikasi, endorphine atau morphine, mesin atau mesiah. Jangan bayangkan Ia yang berkorban bagi umatNya, tapi mesiah dalam diri yang selalu bertenaga mendorong diri: entah jadi badut seperti yang lain, atau cukup sama saja.

Mungkin keliru, tetapi ini pandanganku saat ini. Tidak ada yang keliru, hanya rasa tidak setuju. Kebohongan (kebenaran) ku, belum tentu sama denganmu. Lantas, tidak salahku maupun salahmu bila akhirnya kebenaran dimaknai salah dan digunakan untuk menyakiti. 

Satu hal lagi dari kebenaran kebohongan yang terpikir siang tadi. Kebenaran selalu ada di dalam, jadi inti. Dia terselubung kulit yang dikata kebohongan atau kebenaran yang tak utuh. Kebohongan adalah kebenaran dalam wajah yang lain, yang wajar. 

The painting of the year best of the best UOB 2016

Selamat membaca, selamat mencerna

*tulisan ini pun akan kucerna

Apa

Apa yang bisa kutanamkan dari sebuah kata? Ada yang bicara “Tindakan melampaui kata-kata,” tetapi, ada juga yang mengeluh “Tidak pernah mendengarnya berkata.” Sehebat apakah ia? Kata, yang memerlukan kita atau kita yang memerlukannya?

Sebuah kata, ia ada karena kita, atau kita ada karena kata? Tidak! Tidak sekalipun aku tidak merasa jika kata dan kita pernah terpisah. Kita dan kata, kata adalah kita. Kita adalah bahasa. 

Bahasa adalah ungkapan yang menguar dari kepala. Dari hati. Ia keluar lewat mulut, gerak tubuh, atau sekadar tatap mata. Bukan tanpa makna. Karena setiap kata dari bahasa adalah rasa.

Melacak kembali, rasa itu seolah segala. (Seolah, karena hakikat segala adalah tidak mutlak. Kecuali Sang Mutlak). Tidak heran jika sewaktu-waktu, rasa menjelma menjadi dewa. Dia menjadi yang tak pantang. Selalu pertama, dan melagu ada, dan hanya saya.

Rasa, tiada yang tahu takaran pastinya. Selalu istimewa bagi si punya. Tapi, barangkali kita sama-sama tahu bagaimana rasa bahagia. Paling tidak, menurut kadar kita. Yang tidak berlebih atau kurang. Karena rasa melekat pada jiwa.

Jika harus kukatakan jujur. Rasanya, aku sudah kehilangan kata-kata belakangan ini. Seperti tidak ada rasa yang hendak kusampaikan. Tidak ada bahasa yang mengejawantahkan serpihan keremuk redaman. Aku berada sehening kata apa dalam relung. Tak mampu melihat cahaya, mendengar suara, mengecap rasa. Hanya, apa?

Tidak ada bintang utara, kabut senja, atau mega biasa. Hanya, apa. Mencari pun sekadar tanya. Tidak lebih. Matikah rasa bila hanya apa dalam jiwa? Lit it up, lit it up! Mantra yang kuucap berulang tidak memberi arti. Ruang ini tetap tanpa cahaya dan suara. Aku masih bersama apa. 

Lisvi Naelati Fadlillah || Masih Mencari


 Note : all pict are mines, create using sketch app

Dikelola oleh WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: